Wednesday, July 05, 2006

BUKU


Judul: Menjadi Manusia Pemimpin
Penulis: Fotarisman Zaluchu
Tahun Terbit: 2005
Penerbit: Yayasan Gloria, Jogjakarta

Buku ini berbicara mengenai kepemimpinan. Sebagai sebuah konsep, kepemimpinan tidak punya pola yang dipaku mati. Kepemimpinan adalah sebuah seni dimana setiap orang harus mendefinisikannya dalam suasananya sendiri. Karena itu, kita harus belajar belajar pada mereka yang pernah menjalaninya. Buku ini diilhami adalah pengalaman sejumlah tokoh atas kehidupan mereka, yang kemudian direfleksikan di masa kini. Menjadi pemimpin adalah panggilan. Dan karena itu, setiap orang harus memenuhi panggilan kepemimpinan itu di jamannya.

Read More......

BUKU



Judul: Pertarungan Kekuasaan
Penulis: Fotarisman Zaluchu
Tahun terbit: 2005
Penerbit: Cita Pustaka Media, Bandung
Kata Pengantar: Indra J Piliang

Buku ini mengulas pandangan penulis mengenai proses politik yang mengemuka ketika pemilihan umum secara langsung digelar. Di sana terjadi berbagai intrik yang berujung kepada ambisi kekuasaan. Sebagai sebuah rangkuman mengenai kompetisi itu, penulis mengulas bagaimana politik Indonesia penuh dengan janji-janji bahkan kepalsuan yang sama sekali tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Meski sudah lama berlalu, sampai sekarang dampaknya masih terasa dan sangat jelas. Politik Indonesia, hanya berkisar pada pertarungan kekuasaan belaka. Sementara nasib rakyat tetap tidak dijamah sama sekali. Sekalipun pemilihan langsung digelar, rakyat belum mendapatkan manfaat langsungnya.

Read More......

TIPS: Menulis Itu Mudah


Setiap orang bisa menulis. Mulai dari anak kecil sampai orang yang sangat tua sekalipun. Tahukah anda bahwa di Indonesia, ada seseorang pada usia 64 tahun berhasil menulis 50 judul buku? Dan tahukah anda bahwa sebuah novel pernah ditulis oleh seorang anak kecil berusia 8 tahun? Sekali lagi, menulis itu mudah.

Menulis bukan membaca
Banyak orang gagal menulis karena menyangka bahwa mahir menulis dapat diperoleh dengan membaca. Sebenarnya, untuk dapat mahir menulis, kunci utamanya adalah membiasakan diri menulis. Menjadikan menulis sebagai rutinitas akan mengubah seseorang menjadi lebih mahir dalam menulis. Karena itu, berlatih adalah kata kuncinya

Untuk mahir menulis, tahapan yang dapat kita tempuh adalah sebagai berikut:

Memulai Dengan Ide
Menuangkan Ide
Membangun Sistematika
Memeriksa Tulisan

Langkah Pertama

Kita akan memulai dengan langkah pertama, yaitu memulai dengan ide.

Apa itu ide?
Ide adalah inspirasi tulisan. Artinya tanpa ide, kita tidak dapat memulai menulis. Ide merupakan titik tolak utama dari tulisan. Ide dapat ditemukan dari sekitar kita. Biasanya ide muncul karena berkaitan dengan pekerjaan kita, hobi kita, atau pengalaman hidup kita sendiri. Namun pada dasarnya, ide itu ada dimana-mana, tetapi membutuhkan pengamatan dari kita. Sewaktu menyaksikan sekelompok anak-anak bermain kita mungkin terpicu untuk menulis tentang pengembangan belajar anak usia sekolah. Sewaktu menyaksikan seorang anak sedang bermain sepeda, mungkin kita terangsang untuk menulis tentang model-model permainan untuk anak.

Mengembangkan Ide
Selanjutnya, ide harus dikembangkan. Fenomena yang tadinya sudah merangsang pikiran kita, harus dipertajam. Jangan langsung menulis, sebab kalau masih sebatas langkah di atas, minat akan berhenti dan mudah kehilangan akal. Caranya, ide harus dipertajam sehingga memiliki kekuatan untuk diterjemahkan ke dalam tulisan. Seperti sebuah pisau yang masih tumpul, ide harus dipertajam untuk dapat digunakan. Ide dapat dikembangkan dengan mengasahnya menggunakan
pertanyaan-pertanyaan berikut: apa? siapa? mengapa? kapan? dimana? bagaimana?

Apa?
Kita dapat dengan mencoba mengembangkan pertanyaan mengenai apa saja yang perlu diketahui tentang pekerjaan tertentu. Misalnya mengenai pekerjaan kita, kita dapat mengembangkan pertanyaan, apa saja yang perlu diketahui seorang sehingga dapat bekerja dengan lebih baik?

Siapa?
Kita dapat mengembangkan ide dengan mengajukan pertanyaan menggunakan kata bantu siapa. Kita terpancing untuk mengembangkan ide menjelaskan mengenai figur atau sosok tertentu. Itu merupakan ide dengan bantuan kata siapa.

Mengapa?
Kata mengapa juga bisa menjadi alat bantu mengembangkan ide. Mengapa sebuah kejadian terjadi, mengapa pekerjaan terbengkalai, mengapa kasus tertentu muncul, semuanya berhubungan dengan kata mengapa.

Kapan?
Kita dapat juga tertarik untuk menuliskan mengenai sesuatu yang berhubungan dengan waktu, sejarah, dan seterusnya. Hal ini berhubungan dengan kata kapan.

Dimana?
Menjelaskan mengenai sebuah lokasi, tempat, atau posisi yang berkaitan dengan kata dimana, juga merupakan sebuah sumber ide.

Bagaimana?
Dan yang terakhir, kita dapat menggunakan kata bagaimana untuk menemukan ide. Bagaimana kita dapat mengajar dengan baik, bagaimana mengembangkan kurikulum, bagaimana memotivasi orang, adalah ide yang berasal dari kata bagaimana

Kembali pada pejaran di atas, sebuah tulisan pada dasarnya muncul karena terpicu oleh pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan mengenai sesuatu hal.

Bagi yang baru memulai, gunakanlah satu bantuan kata tanya saja. Jagalah kata tersebut, karena karena kata itu akan menolong kita dalam menuangkan gagasan secara konkrit.

Langkah Kedua

Jika kita sudah memiliki ide, langkah berikutnya adalah menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sejak terpicu oleh pertanyaan-pertanyaan mengenai apa, siapa, mengapa, kapan, dimana, bagaimana, mulailah menulis-nuliskan ide ke dalam coretan-coretan ringan. Namun untuk membuatnya menjadi lebih baik, kita dapat menggunakan point-point argumentasi.

Contoh
Misalnya ide awal kita adalah bagaimana mengajar dengan baik?
Maka kita sudah mulai mengembangkan pokok-pokok gagasan. untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan cara membuatnya dalam bentuk point.
Untuk menjawab pertanyaan bagaimana mengajar dengan baik,
kita menuliskan point:
1. Mempersiapkan bahan dengan bacaan terbaru
2. Mempelajari ulang tujuan pelajaran
3. Mendisain latihan bagi subjek belajar

Point-point inilah yang kemudian menjadi titik awal dari kita untuk mengembangkannya menjadi tulisan yang lebih luas lagi. Mengembangkan point, dapat menggunakan penjelasan yang bersumber dari gagasan pribadi, ataupun menggunakan literatur yang mungkin kita miliki. Namun, usahakanlah berpedoman pada EYD. Kalimat yang baik selalu memiliki satu pokok pikiran. Dan penjelasan yang baik, selalu memiliki benang merah yang terangkai dengan baik, dari awal sampai akhir.

Langkah Ketiga
Langkah berikutnya adalah membangun sistematika.
Sistematika yang baik setidaknya mencakup tiga hal, yaitu pendahuluan, pembahasan dan kesimpulan.

Pendahuluan Tulisan
Pendahuluan berarti latar belakang tulisan tersebut. Latar belakang yang baik menggunakan kalimat-kalimat yang melatarbelakangi kita sehingga ingin menulis hal demikian. Untuk lebih baiknya, latar belakang berisikan argumentasi kuantitatif atau kualitatif mengenai masalah yang sedang ditulis. Dalam contoh kita di atas tadi, menulis mengenai bagaimana mengajar yang baik kita perlukan untuk memberikan pemahaman kepada para guru sehingga kualitas pengajarannya dapat lebih ditingkatkan.

Pembahasan
Sementara itu, pembahasan adalah bahasan mengenai masalah yang sudah kita picu tadi dalam langkah pertama dan kedua. Kita dapat menggunakan studi pustaka yang merujuk kepada buku-buku dukungan, atau menggunakan argumentasi yang kita buat sendiri berdasarkan pengalaman kita. Pembahasan yang baik harus berfokus pada ke-enam kata kunci tadi. Pembahasan jangan melebar terlalu jauh dari topik. Dalam contoh kita, karena kita sudah memilih 3 point maka fokus bahasan kita hanyalah pada ketiga hal tersebut

Kesimpulan
Setelah selesai, buatlah kesimpulan tulisan. Gunakanlah kalimat yang jelas dan tegas mengenai apa yang hendak kita nyatakan. Buatlah kesimpulan berdasarkan apa yang ingin kita ketahui.

Langkah Keempat

Memeriksa tulisan adalah melakukan pembacaan dan editing terhadap tulisan yang sudah dituangkan. Untuk menguji apakah tulisan kita sudah baik, kita harus mengembalikannya kepada pertanyaan awal, apakah sudah sesuai dengan kata tanya pemicu ide tadi? Tulisan yang baik memiliki keterbacaan yang baik. Penulis pemula, sebaiknya menggunakan orang lain sebagai alat bantu. Mintalah orang lain untuk membaca tulisan kita. Jika mereka mengerti, tulisan kita sudah cukup baik untuk disebut sebagai tulisan.

Menulis itu mudah, bukan?
Tetapi mengapa menulis menjadi sulit?

Pertama, kita tidak meluangkan waktu. Kita terbiasa menggunakan komunikasi verbal. Akibatnya kemampuan kita menulis sama sekali tidak terasah.

Kedua, kita tidak memiliki niat untuk menulis. Akibatnya ketika kita menemui kegagalan, kita langsung berhenti.

Sebab ketiga adalah kita tidak memiliki kebiasaan membaca. Padahal membaca adalah jalan satu-satunya untuk memiliki kosa kata dan pola kalimat

Read More......

Tuesday, July 04, 2006

Mari Membangkitkan Bangsa


Inilah panggilan kita,
Inilah impian kita,
supaya kelak,
suatu saat bangsa kita
terhormat dan bermartabat sebagai bangsa

Read More......

Membangkitkan Bangsa Indonesia


Adalah fakta yang sebenarnya bahwa bangsa ini memang luar biasa bangkrutnya. Pendidikan kita kabarnya mencapai titik nadir. Setengah dari seluruh ruang kelas kita berada dalam keadaan rusak. Pertanian kita parah dan tidak berarti. Negeri yang pernah terkenal dengan swasembada beras ini kini mengimpor beras ratusan ribu ton setiap tahunnya. Industri kita terhempas. Ketiadaan uang menyebabkan banyak industri yang menggunakan bahan baku import harus tutup sebelum bisa berkembang. Secara sosial kita sudah terpecah-pecah akibat banyak social distrust. Kerusuhan dan ketidaknyamanan terjadi dimana-mana. Penyakit sosial kini merebak dengan mudahnya. Masalah sedikit sudah langsung menyebabkan kekacauan. Keamanan dan ketertiban menjadi amat langka. Kejahatan merajalela. Hukum dibiarkan bebas begitu saja. Akibatnya terjadi ketidakpastian dalam semua sektor. Tidak ada lagi kewibawaan. Yang terakhir sesama hakim bahkan saling ”berantem” dan tidak kompak dalam mengadili kasus. Penegak hukum merasa diri paling benar. Sementara itu derajat kesehatan semakin rendah. Kematian ibu dna bayi begitu tinggi. Merebaknya kasus flu burung seolah menebar horor bagi bangsa ini.

Mengapa semuanya terjadi? Salah satu yang menjadi alasan adalah karena kita tidak pernah serius membangun etos dan semangat untuk ”membangkitkan bangsa”. Sejarah mengenai impian mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk bangsa ini ditinggalkan dalam lapukan lemari dan buku-buku saja. Bangsa ini tidak pernah menggunakan semangat yang sama dengan yang dimiliki oleh para pemimpin bangsa kita untuk membangun Indonesia yang kuat dan mandiri.

Sejak dulu sampai sekarang etos dan semangat itu diabaikan. Para pemimpin kita lebih suka membangun semangat untuk mempertahankan kedudukan dan kekuasaan. Mereka lebih berorientasi pada keinginan untuk mencapai prestasi politik secara personal atau kelompok, dan mengabaikan kebutuhan bersama.

Alasan kedua adalah bahwa karena seluruh sumber daya yang ada di negeri ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir atau sekelompok orang saja. Mereka menguasai dan menjadikan semuanya seolah merekalah yang menentukan hitam putihnya bangsa kita. Mereka menjadikan kekayaan bangsa sebagai hak milik yang dengan sesuka hati dimanfaatkan. Akibatnya, masyarakat dan kita semua kehilangan sense of belonging. Kita hanya menjadi penonton dan kemudian memiliki sikap sebagai penonton saja. Diabaikan bertahun-tahun dalam seluruh sistem kehidupan, bahkan kadang-kadang tidak diperhatikan dan tidak diperhitungkan sama sekali menyebabkan masyarakat menjadi apatis. Masyarakat beranggapan bahwa negeri ini hanya untuk mereka yang memiliki kesempatan untuk itu. Maka yang terjadi bisa ditebak. Semangat memberikan yang terbaik bagi bangsa ini mengendor, menipis dan kini hilang sama sekali.

Yang menjadi penyebab berikutnya adalah karena kita tidak memperoleh impian yang diasah dan diperbaharui terus menerus mengenai bangsa ini. Padahal, impian adalah tujuan bersama yang akan menggerakkan semangat untuk maju dan melangkah ke depan, apapun yang terjadi pada saat ini.
Impian hadir dari pemimpin. Impian mewujud karena pemimpin. Dan impian diperbaharui karena ada pemimpin. Sayangnya mereka yang menyatakan diri sebagai pemimpin bagi bangsa ini hanyalah pemimpin karena kursi dan karena jabatan. Mereka sama sekali tidak memiliki cinta dan pengabdian. Mereka hanya menjadi pemimpin dalam arti yang sangat sempit.

Andaikan apa yang kita kini alami adalah sebuah peperangan melawan kemelaratan dan kemiskinan, maka yang kita saksikan kini adalah sebuah medan perang tanpa komandan. Komandan perang yang seharusnya berdiri di depan memberi contoh, berdiri di depan memberi semangat dan berdiri di belakang memberikan dorongan sama sekali tidak ada. Padahal tanpa komandan, barisan perang hanyalah sebuah barisan tak beraturan. Tepatnya lebih mirip gerombolan. Dan itulah kita kini. Masyarakat ada. Manusianya ada. Seluruh lembaga negara ada. Semua pimpinan lembaga ada. Bahkan semuanya berebutan ketika hendak menjadi pemimin. Namun, pada saat yang sama, tak tahu hendak kemana dan hendak menjadi apa.

Solusi
Pertanyaan penting apakah mungkin membangkitkan kembali bangsa ini? Adakah semangat untuk membangkitkan bangsa Indonesia dapat menjadi sebuah impian yang menjadi nyata?

Kita selalu beranggapan bahwa solusi selalu akan ada jika kita berikhtiar mau keluar dari masalah ini. Inilah ciri yang membuat kita bisa maju. Salah satunya cara untuk keluar dari masalah ini adalah dengan memajukan IPTEK kita. Beberapa waktu lalu, gagasan mengenai IPTEK kita digagas habis. Semua pihak bertanya bagaimana dan sudah seperti apakah peran IPTEK dalam negeri kita. Namun tidak ada yang memulai menyatakan bahwa kata kunci bagi kemajuan dan kebangkitan negeri kita adalah IPTEK.

Data menunjukkan bahwa para peneliti dan ilmuwan di negeri ini bukan kurang banyak. Hanya saja mereka selama ini tidak diberdayakan dengan maksimal. Mereka dibiarkan bekerja sendiri. Padahal potensi untuk menghasilkan sebuah keunggulan bisa datang dari IPTEK itu sendiri.

Membangun negeri ini dengan IPTEK tidak salah. Semangat untuk memandirikan bangsa, menerjemahkan semangat nasionalisme bukan hanya dengan berteriak-teriak di gedung DPR dan Istana perihal nasionalisme dan kebangsaan. Semangat untuk mengasah nilai tambah dan nilai lebih dari setiap potensi yang ada di negeri ini adalah juga nasionalisme dalam wujud yang lebih nyata.

Yang berikutnya adalah meyelenggarakan pendidikan nasional secara benar dan sungguh-sungguh. Karena sudah kadung dilakukan meski salah kaprah, Ujian Nasional ini misalnya dapat digunakan oleh pemerintah sebagai starting point untuk melakukan sesuatu. Pemerintah harus benar-benar menerapkan anggaran 20 persen untuk pendidikan itu. Pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk memajukan Indonesia di masa depan.
Dan yang tidak kalah penting adalah bahwa pemerintah harus benar-benar menjadi pemerintah yang membangun semangat. Pemerintah jangan hanya bicara supaya masyarakat mengerti kondisi ”kantong” pemerintah. Sesulit apapun keadaan, jika pemerintah kehadiran dan keberadaannya menunjukkan empati, maka masyarakat akan mengerti. Pemerintah harus menjadi pemberi semangat dan menggelorakan semangat untuk membangun bangsa ini. Pemerintah harus memberikan teladan dalam segala hal untuk memperlihatkan bahwa ajakan pemerintah adalah sebuah kebersamaan. Pemerintah harus memperlihatkannya dari caranya menangani kasus korupsi, dalam memberikan kebijakan kepada masyarakat, dalam membersihkan kebocoran uang negara dan penyalahgunaan wewenang, dan terlebih dalam berbicara jujur pada rakyat.

Kita dulu pernah punya semangat kebangkitan nasional. Kita pernah memilikinya dalam sejarah kita. Dan semangat itu bisa dihadirkan kembali pada saat sulit seperti ini. Mari kita semua memperjuangkannya. Semua kita yang bermimpi mengenai kebangkitkan bangsa ini, marilah bergandeng tangan mencapainya. Mari kita wujudkan mimpi itu, kita jadikan kita bukan hanya pemimpi, namun juga yang mampu membuat impian menjadi nyata. Mari, bangkitkan bangsa ini.

Read More......